SUSUNAN REDAKSI

Suwardi, S.P.: Pelindung

Drs. H. Ma’shum Ade: Penanggung Jawab

Drs. Koesno: Liputan Editorial

Suhadianto, M.Psi: Profil Suroboyoan

H. Sugijono, S.Pd: Three in One Sastra Budaya

Dra. Mutiah: Islam Kontemporer Opini

Dra. Hj. Tutut Werdiningsih: Gaya dan Pesona IPTEK

Yunita Nurul Amini, S.Psi: Psikologi Problem Motivasi Belajar

Sri Indah Winarti: Dari Aku Untuk Kamu English Corner

M. Zaenal A: Desain / Layout Sirkulasi

Eva Nur Fadillah, SE: Bendahara

MAJALAH INAYAH EDISI 8 2010

Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Maret 2010

GARA GARA TADI MALAM

1 komentar


Jam sudah menunjukkan angka pukul 21.00 Rina masin menonton TV karena film malam ini bagus sampai-sampai akhirnya dia melupakan kewajibannya untuk belajar. Sebenarnya ibuku sudah memperingati aku, tetapi aku tetap melanggarnya hanya untuk nonton film. Akhirnya pagi-pagi Rina terlambat ke sekolah. Jantung Rina berdebar-debar cepat ketika melihat suasana
sekolahnya sudah sepi. Tidak ada lagi siswa-siswi yang bermain di luar kelas. Ia baru menyesal mengapa kemarin menonton TV sampai pukul 12 malam, sehingga bangun kesiangan dan terlambat untuk datang kesekolah. Rina berlari cepat menyusuri lorong-lorong kelas lain untuk menuju kelas X-A kelasnya. Ketika sampai didepan kelas terdengar suara pak Dadan, yang sedang mengajar Fisika. Jantung Rina semakin berdebar cepat karena P. Dadan yang killer itu paling tidak suka kalau ada murid yang terlambat masuk. Rina melihat ke jam tangannya, sudah pukul 07.10. dia sudah terlambat 10 menit. Ingin rasanya dia pulang. Tapi, kalau pulang ketinggalan pelajaran. Akhirnya dengan ragu-ragu Rina masuk mengetuk pintu.
“Masuk!” ucap Pak Dadan dari dalam kelas. Rina membuka pintu. Seluruh pandangan matanya tertuju pada arahnya. Dengan wajah kurang senang, Pak Dadan bertanya, “Kenapa kamu terlambat?” “Ma’af Pak, saya tadi kesiangan,” Rina menjawab sambil melihat Pak Dadan dengan takut. “Untuk kali ini saya maafkan, tapi lain kali saya tidak mau mendengar alasan apapun”, Pak Dadan berkata dan siap memulai pelajaran lagi. Rina berjalan ke tempat duduknya dan bersyukur dalam hati. Ketika bel pulang berbunyi, murid-murid keluar dari kelasnya termasuk Adry, sahabat Rina. “Rina, kenapa sih kamu sering banget terlambat?” tanya Adry. “Kalau tadi sih memang karena aku bangun kesiangan”. “Tapi, bukan Cuma kali ini aja terlambatnya. “Ya deh aku minta ma’af?” ujar Rina sambil wajah menyesal. Keesokan harinya Rina berangkat kesekolah 06.30 agar tidak terlambat lagi seperti kemarin. “Nah gitu donk itu namanya Rina yang aku kenal sekarang, udah gak terlambat lagi”.
“Ya...ya...!?” ujar Rina. Mulai sekarang aku bakalan gak akan terlambat lagi....!!”

Read More......

KELUARGA SEDERHANA

0 komentar


Pada suatu masa hiduplah pasangan suami istri yang hidupnya sangat kurang dari kecukupan. Mereka bernama Pak Rahmat dan Bu Siti. Mereka mempunyai dua orang anak yang bernama Farah dan Reyhan. Pak Rahmat adalah seorang penjual gorengan keliling, sedangkan Bu Siti membuka warung di depan rumahnya untuk berjualan gado-gado. Farah adalah anak sulung mereka yang saat ini duduk di bangku SMP kelas 2, sedangkan Reyhan adalah anak bungsu mereka yang masih duduk di bangku SD kelas 5.
Suatu hari, Farah sedang mencari-cari ayahnya, karena ada yang harus ditanyakan oleh Farah. Dan ternyata ayahnya sedang duduk di teras depan, lalu dihampirilah ayahnya oleh Farah, “Ayah, apakah ayah sudah punya uang? Tanya Farah dengan sedih. Dengan gelisah Pak Rahmat menjawab “Maafkan Ayah Farah. Ayah masih belum mendapatkan uang. Kalau boleh aah tau ada apa nak?” tanya ayahnya sambil menyuruh Farah duduk disebelahnya. “Kata Kepala Sekolah Farah, jika Farah tidak membayar uang SPP secepatnya Farah akan dikeluarkan dari sekolah!” dengan suara yang lemah dan menangis, ayah menjawabnya. “Baiklah, ayah akan mencarikan uang secepatnya.” Merasa bersalah terhadap Farah. Besoknya ayahnya berangkat kerja sangat pagi-pagi sekali. “Saya harus berangkat kerja lebih awal agar anak saya tidak dikeluarkan dari sekolah!” dengan semangat untuk kerja.
Beberapa hari kemudian Reyhan datang dari sekolahnya dengan cepat. “Assalamua’alaikum” salam Reyhan “Wa’alikumsalam” jawab kembali bu Siti. Bu Siti bertanya kepada Reyhan “Reyhan, mengapa kamu pulang lebih awal tidak seperti biasanya?” Tanya Bu Siti dengan herannya. Reyhan menjawab” Iya bu. Reyhan tidak diperbolehkan sekolah karena uang SPP Reyhan belum di lunasi.” Jawab Reyhan dengan wajah yang sedih. Bu Siti menjawab dengan jujur kepada Reyhan bahwa ia dan suaminya masih belum mendapatkan uang untuk membayar SPP sekolah Reyhan.
Sewaktu Farah berada di sekolah di mading sekolahnya berkumpul anak-anak dan ia merasa heran. Salah satu temannya berlarian dan ia bertanya “Dinda, di depan mading ada apa kok ramai?” sang temannya menjawab “Oh, itu. Ada pengumuman bahwa akan diadakan loma Olimpiade Fisika se-kabupaten. “Menjawab dengan cepat ingin melihat pengumumannya.” “Wah, jika hadiahnya berupa uang akan membantu sekali untuk membayar SPP”. “Tetapi kalau hadiahnya berupa uang akan membantu sekali untuk membayar SPP.” Ingin cepat-cepat mendaftar. Setelah ada pengumuman dari guru-gurunya ia langsung mendaftar “Bu, saya mau mengikuti lomba Olimpiade Fisikan se-kabupaten.” Dengan cepat mendaftarnya “Baik, namamu siapa?” “Nama saya Farah, bu.” Berasa sangat senang.” Sebelum mengikuti lomba harus penyeleksian dahulu terhadap peserta.” “Baik. Bu. Saya akan mengikuti apa saja peraturannya.” Setelah mendaftar, Farah langsung pulang dan memberi tahu kepada Ayah, Ibu dan adiknya Reyhan bahwa ia telah mendaftar untuk menjadi peserta Olimpiade Fisika Tingkat Kabupaten. “Assalamu’alaikum” salam Farah. “Waalaikumsalam” jawab seluruh anggota keluarganya.” Ayah, Ibu, Reyhan aku telah mendaftar menjadi peserta Olimpiade Fisika Tingkat Kabupaten dan hadiahnya adalah uang tunai sebesar Rp. 3.000.000,00 yang nantinya akan kita pergunakan untuk membayar uang SPP aku dan uang SPP adik”. Farah sedikit gugup untuk tampil Olimpiade, tapi karena dukungan orang tuanya rasa gugup Farah sedikit hilang.
Besoknya pada waktu Farah masuk sekolah pengumuman dari penyeleksian untuk mewakilkan menjadi peserta Olimpiade telah dipajang di mading sekolah. Waktu Farah melihatnya ialah yang terpilih menjadi peserta Olimpiade se-kabupaten” Alhamdulillah saya terpilih menjadi peserta Olimpiade Fisika.” Dengan perasaan senang Farah juga bersyukur kepada Allah SWT.
Pada saat Olimpiade Fisikanya dimulai Farah meminta doa restu kepada orang tuanya agar memenangkan Olimpiadenya. “Ayah dan Ibu Farah minta doa restunya, ya! Supaya Farah menang melawan peserta dari sekolah lainnya, “ Pada waktu Olimpiade Fisikanya di mulai, semua orang yang kenal dan menyanyangi Farah memberikan semangat pada Farah semakin semangat untuk untuk menghadapi olimpiade tersebut. Setelah beberapa pertanyaan yang diberikan, nilai Farah dan peserta lainnya seri. “Bismillah hirohman nirrohim, semoga di pertanyaan terakhir ini saya bisa menjawabnya” Ujar Farah dalam hati. Saat pertanyaan terakhir diberikan, Farah dengan cepat menjawab pertanyaan tersebut. Dan akhirnya Farah dapat menjawab pertanyaan terakhir itu. Akhirnya ia pun yang menjadi pemenang dari olimpiade tersebut. Sesuai dengan ketentuan, Farah mendapatkan uang tunai sebesar Rp. 3.000.000,00. Dan Farah menggunakan uang tersebut untuk membayar SPP sekolahnya dan SPP adiknya.

Read More......

PERSAHABATAN SUNYI

0 komentar


Di sebuah jembatan penyeberangan tak beratap, matahari menantanggarang di langit Jakarta yang berselimut karbon dioksida. Orang-orangmelintas dalam gegas bersimbah peluh diliputi lautan udara bermuatanasap knalpot. Lelaki setengah umur itu masih duduk di situ,bersandarkan pagar pipa-pipa besi, persis di tengah jembatan.Menekurkan kepala yang dibungkus topi pandan kumal serta tubuh dibalutbusana serba dekil, tenggorok di atas lembaran kardus bekas airkemasan. Di depannya sebuah kaleng peot, nyaris kosong dari uang
recehlogam pecahan terkecil yang masih berlaku. Dan, di bawah jembatan,mengalir kendaraan bermotor dengan derasnya jika di persimpangan takjauh dari jembatan itu berlampu hijau. Sebaliknya, arus lalu lintas itumendadak sontak berdesakan bagai segerombolan domba yang terkejut olehauman macan, ketika lampu tiba-tiba berwarna merah.

Lelaki setengah umur yang kelihatan cukup sehat itu akan "tutup praktik"ketika matahari mulai tergelincir ke Barat. Turun dengan langkah pastimenuju lekukan sungai hitam di pinggir jalan, mendapatkan gerobakdorong kecil beroda besi seukuran asbak. Dari dalam gerobak yang penuhdengan buntelan dan tas-tas berwarna seragam dengan dekil tubuhnya, iamencari-cari botol plastik yang berisi air entah diambil dari mana,lalu meminumnya. Setelah itu ia bersiul beberapa kali. Seekor anjingbetina kurus berwarna hitam muncul, mengendus-endus danmenggoyang-goyangkan ekornya. Ia siap berangkat, mendorong gerobakkecilnya melawan arus kendaraan, di pinggir kanan jalan. Anjing kurusitu melompat ke atas gerobak, tidur bagai anak balita yang merasatenteram di dodong ayahnya.

Melintasi pangkalan parkir truk yang berjejer memenuhi trotoar, para pejalan kaki terpaksamelintas di atas aspal dengan perasaan waswas menghindari kendaraanyang melaju. Lelaki itu lewat begitu saja mendorong gerobak bermuatananjing dan buntelan-buntelan kumal miliknya sambil mencari-cari puntungrokok yang masih berapi di pinggir jalan itu, lalu mengisapnya dengansantai. Orang-orang menghindarinya sambil menutup hidung ketikaberpapasan di bagian jalan tanpa tersisa secuil pun pedestrian karenatelah dicuri truk-truk itu.

Lelaki setengah umur itumemarkir gerobak kecilnya di bawah pokok akasia tak jauh setelahmembelok ke kanan tanpa membangunkan anjing betina hitam kurus yangterlelap di atas buntelan-buntelan dalam gerobak itu. Ia menepi kepinggir sungai yang penuh sampah plastik, lalu kencing begitu saja. Iatersentak kaget ketika mendengar anjingnya terkaing. Seorang bocahperempuan ingusan yang memegang krincingan dari kumpulan tutup botolminuman telah melempari anjing itu. Lelaki itu berkacak pinggang,menatap bocah perempuan ingusan itu dengan tajam. Bocah perempuaningusan itu balas menantang sambil juga berkacak pinggang. Anjingbetina hitam kurus itu mengendus-endus di belakang tuannya, sepertiminta pembelaan.

Lelaki itu kembali mendorong gerobak kecilnya dengan bunyi kricit- kricit roda besi kekurangan gemuk. Anjingbetina kurus berwarna hitam itu kembali melompat ke atas gerobak,bergelung dalam posisi semula. Bocah perempuan yang memegang krincinganitu mengikuti dari belakang dalam jarak sepuluh meteran. Bayangan jalanlayang tol dalam kota, melindungi tiga makhluk itu dari sengatanmatahari. Sementara lalu lintas semakin padat, udara semakin pepatberdebu.

Tiba-tiba, lelaki setengah umur itu membelokkan gerobak kecilnya ke sebuah rumah makan yang sedang padat pengunjung.Dari jauh, seorang satpam mengacung-acungkan pentungannyatinggi-tinggi. Lelaki itu seperti tidak memedulikannya, terus sajamendorong hingga ke lapangan parkir sempit penuh mobil di depanrestoran itu. Sepasang orang muda yang baru saja parkir hendak makan,kembali menutup pintu mobilnya sambil menutup hidung ketika lelaki itumenyorongkan gerobaknya ke dekat mobil sedan hitam itu. Seorang pelayanrumah makan itu berlari tergopoh- gopoh keluar, menyerahkan sekantongplastik makanan pada laki-laki itu sambil menghardik.

"Cepat pergi!"

LELAKI setengah umur itu menghentikan gerobak kecilnya di depan sebuah halte bus kota. Mengeluarkan beberapa koin untuk ditukarkan dengan beberapa batang rokok yang dijual oleh seorang penghuni tetap halte itu dengan gerobak jualannya. Orang-orang yang berdiri di dekat gerobak rokok itu menghindar tanpa peduli. Halte itu senantiasa ramai karena tak jauh dari situ ada satu jalur pintu keluar jalan tol yang menukik dan selalu sesak oleh mobil-mobil yang hendak keluar. Lelaki itu meneruskan perjalanannya menuju kolong penurunanjalan layang tol itu. Meski berpagar besi, telah lama ada bagian yang sengaja dibolongi oleh penghuni-penghuni kolongjalan layang itu untuk dijadikan pintu masuk. Tempat lelaki setengah umur itu di pojok yang rada gelap dan terlindung dari hujan dan panas. Dari dulu tempatnya di situ, tak ada yang berani mengusik. Kecuali beberapa kali ia diangkut oleh pasukan tramtib kota, lalu kemudian dilepas dan kembali lagi ke situ. Ia lalu membongkar isi gerobaknya, mengeluarkan lipatan kardus dan mengatumya menjadi tikar. Anjing betina berwama hitam kurus itu mengibas-ngibaskan ekomya ketika lelaki itu mengambil sebuah piring plastik dari dalam buntelan, lalu membagi makanan yang didapatnya dari rumah makan tadi. Keduanya makan dengan lahap tanpa menoleh kanan-kiri.

Bocah perempuan ingusan itu berdiri dari jauh di bawah kolong jalan layang itu, memandang dengan rasa lapar yang menyodok pada dua makhluk yang sedang asyik menikmati makan siang itu. Ia memberanikan dirinya menuju kedua makhluk itu, lalu bergabung makan dengan anjing betina berwama hitam kurus itu. Temyata anjing betina itu penakut. Ia menghindar dan makanan yang tinggal sedikit itu sepenuhnya dikuasai bocah perempuan itu dan ia melahapnya. Sedang lelaki setengah umur itu tidak peduli, meneruskan makannya hingga licin tandas dari daun pi sang dan kertas coklat pembungkus. Mengeluarkan sebuah botol air kemasan berisi air, meminumnya separuh. Tanpa bicara apa- apa, bocah perempuan ingusan itu menyambar botol itu dan meminumnya juga hingga tandas. Lelaki setengah umur itu hanya memandang, sedikit terkejut, tapi tidak bicara apa-apa. Air mukanya tawar saja. Mengeluarkan rokok dan membakamya sambil bersandar pada gerobak kecilnya. Tergeletak tidur setelah itu di atas bentangan kardus kuma!.
MALAM telah larut. Bocah perempuan ingusan itu terbirit-birit dikejar gerimis yang mulai menghujan. Rambutnya yang nyaris gimbal itu kini melekat lurus-lurus di kulit kepalanya disiram gerimis. Bunyi krincingan dan kresek-kresek kantong plastik yang dibawanya membangunkan anjing betina kurus berwama hitam itu. Ia menyalak sedikit, kemudian merungus setelah dilempari sepotong kue oleh bocah itu. Lewat peneranganjalan, samar- samar dilihatnya lekaki setengah umur itu tidur bergulung bagai angka lima di atas kardus. Setelah melahap kue, anjing itu kembali tidur di sebelah tuannya, di atas bentangan kardus yang tersisa.
Bocah itu mengeluarkan lilin dan korek api dari dalam kantong plastik. Berkali-kali menggoreskan korek api, padam lagi oleh tiupan angin bertempias. Lalu ia mendekat ke arah lelaki setengah umur itu agar lebih terlindung oleh angin dan berhasil menyalakan lilin. Bocah itu melihat ujung lipatan kardus tersembul dari dalam gerobak kecil di atas kepala lelaki setengah umur itu. Ia berusaha menariknya keluar tanpa menimbulkan suara berisik dan membangunkan lelaki itu. Setelah berhasil, ia membaringkan dirinya yang setengah menggigil karena pakaiannya basah. Merapat pada tubuh lelaki yang memunggunginya itu, sekadar mendapatkan imbasan panas dari tubuh lelaki itu.
Bocah perempuan ingusan itu cepat terlelap dan bermimpi berperahu bersama anjing betina kurus berwama hitam itu di sebuah danau yang sunyi. Deru mesin mobil yang melintasi jembatan beton di atas mereka justru menimbulkan rasa tenteram, rasa hidup di sebuah kota yang sibuk. Lelaki setengah umur itu juga sedang bermimpi tidur dengan seorang perempuan. Ketika ia membalikkan badannya, ia menangkap erat-erat tubuh bocah yang setengah basah itu dan melanjutkan mimpinya.

Sebelumnya, kolong penurunanjalan layang tol itu cukup padat penghuninya di malam hari. Beberapa anakjalanan yang sehari- hari mengamen di sepanjangjalan bawah, juga bermalam di situ. Ada lima anak jalanan laki-Iaki yang selalu menjahili bocah perempuan yang selalu membawa krincingan itu sampai menangis berteriak-teriak. Lelaki setengah umur itu membiarkannya saja. Mungkin menurutnya sesuatu yang biasa-biasa saja, meskipun anak-anak lelaki itu sampai-sampai menelanjangi bocah perempuan ingusan itu. Penghuni lain pun tak ada yang berani membela. Sejak itu, bocah perempuan ingusan itu menghilang, entah tidur di mana.
Lelaki setengah umur itu mulai marah ketika suatu hari ia membawa seekor anjing betina kurus berwama hitam ke markasnya. Mungkin anjing itu kurang sehat hingga semalaman anjing itu terkaingkaing. Lelaki itu tampak berusaha keras mengobati anjing itu dengan menyuguhkan makanan dan air. Tapi, anak-anakjalanan yangjahil itu melempari anjing itu dengan batu. Salah satu batunya mengenai kepala lelaki itu. Lelaki itu meradang, lalu mengambil golok di dalam timbunan buntelan dalam gerobak kecilnya. Anak-anak itu dikejamya. Konon salah seorang terluka oleh golok itu. Namun, mereka tak ada yang berani melawan dan tak berani kembali lagi.
SEBELUM subuh, pasukan tramtib itu datang lagi, lengkap dengan polisi dan beberapa truk dengan bak terbuka pengangkut gelandangan. Sebelum matahari muncul, kolong- kolongjembatan danjalan layang harus bersih dari manusia-manusia kasta paling me lata itu. Mimpi lelaki itu tersangkut bersama gerobaknya di atas bak truk. Begitu juga bocah perempuan itu. Lelaki setengah umur itu menggapai¬gapaikan tangannya, minta petugas menaikkan anjingnya yang menyalak-nyalak, minta ikut bersama tuannya. Tapi, sebuah pentungan kayu telah mendarat di kepala anjing kurus itu hingga terkaing-kaing, berlari ke seberang jalan dan hilang ditelan kegelapan.
"Mampus kau, anjing kurapan!" sumpah petugas itu sambil melompat ke atas truk yang segera berangkat.
Bak truk terbuka itu nyaris penuh, termasuk tukang rokok di halte dekat situ. Lelaki setengah umur itu tampak geram. Matanya mencorong ke arah petugas yang memegang pentungan. Petugas itu pura-pura tidak melihat. Hujan telah berhenti. Iringan truk yang penuh manusia gelandangan kota yang dikawal mobil polisi bersenjata lengkap di depannya, menuju ke suatu tempat arah ke Utara, dan kemudian membelok ke kanan. Dari pengeras suara di puncak-puncak menara masjid terdengar azan subuh bersahut-sahutan. Bulan semangka tipis masih menggantung di langit, kadang-kadang tertutup awan yang bergerak ke Barat.
BEBERAPA minggu kemudian, pelintas jembatan penyeberangan yang beratap itu, kembali menemukan lelaki setengah umur itu berpraktik di tempat sebelumnya. Ia baru turun mengemasi kaleng peot dan alas kardusnya ketika matahari mulai tergelincir ke Barat. Melangkah dengan pasti, menuju tempat gerobak kecilnya ditambatkan.
Di depan pangkalan truk yang telah menyempitkan jalan, lelaki itu mendorong gerobak kecilnya dengan santai sambil mengawasi puntung-puntung rokok yang masih berapi dilempar sopir-sopir truk ke jalan. Ada yang sengaja melemparkan puntung rokoknya ketika laki-Iaki bergerobak itu melintas. Di atas gerobaknya, kini bertengger bocah perempuan ingusan itu sambil terus bemyanyi dengan iringan krincingannya. Orang-orang tak ada yang peduli. *


Read More......

CINTA DAN PERSAHABATAN

0 komentar


Acara televisi sore ini tak satupun membuat aku tertarik. Kalau sudah begini aku bingung entah apa yang harus aku lakukan. Tio bersama Sany kekasihnya, sahabatku Ricky entah kemana? Mall, bioskop ataupun perpustakaan, bukan tempat yang aku suka, apalagi mesti pergi sendirian.
mmm…Pantai.

Ya pantai. kayaknya hanya pantailah, tempat yang mampu membuat aku merasa damai dan tak aneh jika aku pergi sendirian.
Kuambil jaket, lalu kusamber kunci dan pergi menuju garasi. Kukendarai mobil mama yang nganggur di sana. Papa dan mama lagi keluar kota, jadi aku bisa keluar dan mengendari mobilnya dengan leluasa.
Terik panas masih menyengat, walaupun waktu sudah menjelang sore. Namun tak membuat manusia-manusia di Ibukota berhenti beraktivitas meskipun di bawah terik matahari yang mampu membakar kulit. Jalan-jalan macet seperti biasanya. Dipenuhi mobil dari merek ternama ataupun yang sudah tak layak dikendarai.
Lalu di depan kulihat pemandangan lain lagi. Pedagang kaki lima duduk lesu menunggu pelangannya.
Krisis yang melanda membuat banyak orang hati-hati melakukan pengeluaran, bahkan untuk membeli jajan pasar.Walaupun tak seorang yang menghampirinya, namun dia tetap semangat menyapa orang-orang yang lewat dan akhirnya ada juga satu pembeli yang menuju arahnya.
Sekilas kulihat orang itu kok mirip sekali dengan Ricky. Kugosok-gosok mataku, menyakinkan pandanganku. Kutepikan mobilku, lalu aku berhenti di tepi jalan itu. Dengan setengah berlari, aku mengejar sosok itu.
Ah…kendaraan sore ini banyak sekali, sehingga membuat aku kesulitan untuk menyeberang jalan ini. Tapi akhirnya terkejar juga, dengan nafas tersengal-sengal, kujamah bahunya.
“Ky!” seruku tiba-tiba, sehingga membuatnya terkejut.
“Anda siapa?” tanya Ricky pura-pura tak mengenalku.
“Ky. Sekalipun kamu jadi gembel , aku akan tetap menggenalmu.” jelasku mendenggus kesal.
“Sudahlah, Sophia, jangan membuat aku terluka lagi.” tukasnya begitu sinis seraya beranjak pergi.
“Ky…Ky…knapa kamu tak pernah mau mendengarkan penjelasanku!” teriakku sekeras-kerasnya. Namun bayangan Ricky semakin menjauh dan akhirnya tak kelihatan.
***
Ricky, Tio dan aku adalah sahabat karib dari kecil. Setelah tumbuh besar, aku tetap mengganggap Ricky adalah sahabat terbaikku, tapi Ricky punya rasa berbeda dari persahabatan kami. Yang aku cintai adalah Tio. Ini yang membuat Ricky menjauhiku. Tapi yang Tio cintai bukan aku, tapi Sany, teman sekelasnya.
Cinta, sulit di tebak kapan dan di mana berlabuh!
Banyak orang tak bisa terima, jika cintanya ditolak, tapi bukankah cinta tak mungkin dipaksa?
Tak mendapatkan cinta Tio, tak membuatku menjauh darinya, tapi aku akan tetap menjadi sahabat baiknya. Walaupun ada sedikit rasa tidak puas, kadang rasa cemburu menganggu hati kecilku, saat kutahu untuk pertama kali, orang yang Tio cintai adalah orang lain.
Aku harus bisa menerima keputusannya , walaupun terasa berat . Bukankah, kebahagian kita adalah melihat orang yang kita cintai hidup berbahagia, baik bersama kita atau tidak?
Tapi tidak dengan Ricky, dia lebih memilih, meninggalkanku, mengakhiri persahabatan manis kami. Pergi dan aku tak pernah tahu kabarnya. Tapi apapun yang terjadi, aku akan selalu berharap suatu saat kami akan dipertemukan lagi.
Karena bagiku, cinta dan persahabatan adalah dua ikatan yang sama. Ikatan yang tak satupun membuat aku bisa memilih satu diantaranya.
***
Sudah seminggu, setiap hari, aku datang kepersimpangan ini. Berharap bisa melihat sosok Ricky lewat disekitar sini lagi. Tapi, Ricky hilang bagai ditelan bumi. Aku hampir putus asa.
Aku sudah capek menunggu, akhirnya aku bangun dan ingin beranjak pergi. Knapa tiba-tiba, indera keenamku, memberiku insting, kalau Ricky ada di sekitarku.
Kubalikan kepala, kulihat sosok Ricky setengah berlari menyeberang jalan di belakang posisiku. Aku berlari menggejar sosok itu. Kuikuti dia dari belakang. Aku pingin tahu dimana dia berada sekarang.
Akhirnya kulihat Ricky, masuk ke sebuah gang kecil, kuikuti terus , sampai akhirnya dia masuk ke sebuah rumah yang sangat sederhana.
“Knapa Ricky lebih memilih hidup disini, daripada di rumah megah orangtuanya?”
”Knapa dia, tinggalkan kehidupannya, yang didambakan banyak orang?”
”Knapa semua ini dia lakukan?”
“Knapa?”
Banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalaku.
Setelah dia masuk kurang lebih 10 menit, aku masih berdiri terpaku dalam lamunanku, dengan pertanyaan-pertanyan yang jawabanya ada pada Ricky. Aku dikejutkan suara seekor anak anjing jalanan, yang tiba-tiba menggonggong.
Aku memberanikan diri memencet bel di depan rumahnya itu.
“Siapa?” terdengar suara dari balik pintu.
Aku diam, tak memberi jawaban. Setelah beberapa saat aku lihat Ricky pelan-pelan membuka pintu. Nampak keterkejutannya saat melihatku, berada di depannya.
“Ky…boleh aku masuk?” tanyaku hati-hati.
“Maukah kamu memberikan sahabatmu ini, segelas air putih.” ujarku lagi.
Tanpa bicara, Ricky mengisyaratkan tangannya mempersilahkan aku masuk. Aku masuk keruangan tamu. Aku terpana, kulihat rumah yang tertata rapi. Rumah kecil dan sederhana ini ditatanya begitu rapi, begitu nyaman. Kulihat serangkai bunga matahari plastik terpajang di sudut ruangan itu.
“Ricky, kamu tak pernah lupa, aku adalah penggagum bunga -bunga matahari.” gumanku.
Dan sebuah akuarium yang di penuhi ikan berwarna-warni, rumput-rumput dari plastik dan karang-karang di dalamnya. Ricky tahu betul aku penggagum keindahan pantai dan laut. Walaupun hal-hal ini dulunya, setahuku, kamu tak menyukainya. Kulihat juga banyak foto persahabatan kami yang di bingkainya dalam bingkai kayu yang sangat indah, terpajang di dinding ruang tamu ini.
Bulir-bulir air mataku, perlahan-lahan mulai tak mampu aku bendung. Aku benar-benar terharu dengan semua yang Ricky lakukan. Begitu besar cinta Ricky buatku. Kupeluk dia, yang aku sendiri tak tahu, apakah pelukan ini adalah pelukkan seorang sahabat ataupun sudah berubah menjadi pelukan yang berbeda?
Ricky kaget, namun akhirnya dia membalas pelukanku, dan memelukku lebih erat lagi , seakan-akan ingin menumpahkan segala rindu yang sudah hampir tak terbendung dalam hatinya.
Kami menghabiskan sore ini dengan berbagi cerita, pengalaman kami masing-masing selama perpisahan yang hampir 2 tahun lamanya dan akhirnya Ricky mengajakku makan, ke sebuah restoran kecil yang sering dikunjunginya seorang diri, di dekat rumahnya. Terdengar alunan tembang-tembang romatis , suasana hening, membuat kami terbuai dalam hangatnya suasana malam itu.
***
Sekarang Ricky sudah tahu, Tio sudah bersama Sany. Kami sekarang menjadi 4 sekawan. Sany juga telah menjadi anggota genk kami.
Ternyata setelah aku mengenalnya lebih lama, Sany adalah sosok yang sangat baik hati, menyenangkan, ramah dan peduli dengan sahabat. Ah…menyesal aku tak mengenalinya lebih dalam sejak dulu.
“Ky , biarlah semua berjalan apa adanya, mungkin cinta akan pelan-pelan muncul dari hatiku.” ujarku suatu hari, saat Ricky mengungkit masalah ini lagi.
“Oke, aku akan selalu menunggumu. Sampai kapapun. Karena tak akan ada seorangpun yang mampu membuatku jatuh cinta . Hanya kamu yang mampu membuat aku damai, tenang dan bahagia.” jelasnya panjang lebar
Sekarang aku memiliki tiga orang sahabat baik. Tak akan ada lagi hari-hariku yang kulalui dengan kesendirian, kesepian dan kerinduan.
Hampir setiap akhir pekan, kami menghabiskan waktu bersama, ke pantai, ke puncak ataupun hanya sekedar berkaroke di rumah sederhana Ricky. Hidup dengan tali persahabatan yang hangat, membuat hidup semakin berarti dan lebih bahagia.
***
Waktu berjalan begitu cepat. Tiga tahun sudah berlalu. Kebaikan-kebaikan Ricky mampu membuat aku merasa butuh dan suka akan keberadaannya di sampingku. Rasa itu pelan-pelan tumbuh tanpa kusadari dalam hatiku.
Aku jatuh hati padanya setelah melalui banyak peristiwa. Cinta datang, dalam dan dengan kebersamaan.
Apalagi dengan sikap dan perbuatan yang ditunjukannya. Membuat aku merasa, tak akan ada cinta laki-laki lain yang sedalam cinta Riky.
Sekarang Ricky bukan hanya kekasih yang paling aku cintai tapi juga seorang sahabat sejati dalam hidupku.

Read More......

ARSIP BLOG

REPORTER INAYAH

Liputan :

Linda Lupita K 8B

Anisatul Lu’aili 8B

Helia Batohir 8A

Profil :

Luluk Fatchiyah

Tri Yuliantika

Ratih Sinta


Suroboyoan :

Ananda Putri – 8A

Tiara Maharani – 8A

Three in One :

Shasti 9G

Nadhatul Fitriyah 7F

Farah Safira 7F

Sastra Budaya :

Ammar Zarand Muhammad 8A

Zahra Hasan 9B

Rahma Cyntia 7F

Budiyo 7E

Islam Kontemporer :

Ainul Inayatullah 8A

Shella Es Shabarina 8A

Opini :

Nur Afifah 7C

Bella Eka 7B

Gaya Pesona :

Annisatul Maula 8E

Laily Abidatillah 8C

IPTEK :

Muhammad Nabil

Ruly Ardyansyah

Psiko Problem :

Rr. Karinka 8F

Nur Aini Putri 8F

Motivasi Belajar :

Alya Sabila 8E

Devi Hidayati 8C

Dari Aku Untuk Kamu :

Madya Rachmayani 9D

Atika Prawita Putri 9D

EDITORIAL INAYAH EDISI 8 2010

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Banyak kejadian akan peristiwa yang telah kita lewati. Beberapa prestasi telah pula kita ukir. Semua itu akan menambah kedewasaan dalam berpikir. Pada edisi ini Inayah tampil dengan tema..... Mengasah Life Skill Yuk.......

Nah, apa sich life skill itu? Bisa kalian baca pada artikel di rubrik Islam Kontemporer. Selanjutnya rubrik opini menampilkan curahan pendapat tentang life skill dari teman-teman pembaca setia Inayah.

Rubrik-rubrik andalan pada edisi ini antara lain,

a. Profil menampilkan sosok yang selama ini begitu fenomenal dan pasti semua pembaca kenal yaitu Bp. H. Katsir Usman. Ada apa dengan beliau ................. .

Ikuti penuturannya pada reporter profil kali ini.

b. Selain profil yang menampilkan Bapak/Ibu Guru, terbitan ini juga menampilkan pembaca setia Inayah, Siapa? Namanya Audi. Siapa dan bagaimana dia ........ Ikuti ceritanya.

c. Ada kegiatan penting yang dilaksanakan oleh segenap keluarga besar SMP Ta’miriyah ke sekolah dan pondok terkenal dan dilanjutkan ke Bromo. Mau tau liputannya? Ikuti di rubrik Liputan.

d. Banyak lagi rubrik-rubrik menarik yang dapat disimak di edisi ini.

Okey, kretifitas berupa gambar, foto, artikel, humor, atau apa saja dapat kalian kirimkan ke Redaksi Majalah Inayah.

Selamat Belajar dan Sukses.


Inayah dapat diakses melalui internet dengan blog :

http://www.majalahinayah.blogspot.com

LIVE TRAFFIC FEED

BERLANGGANAN

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

BLOG SPETA

BACA TULISAN TERKAIT

Copyright 2009 | magazineform Theme by templatemodif | supported by grafisae